Awal minggu yang bikin penat diri ya baek dari segi fisik maupun psikologi. Suasana penat ditambah dengan batuk yang tak kunjung reda kurang lebih 2 minggu ini dan mengharuskan saya untuk ke dokter. Mencoba mengurangi stress diri ini setelah periksa melakukan perjalanan yang tak terencana alias BONEK (BONDO NEKAT) tujuannya entah kemana kemudian terpikirkan untuk ke pante ehhh malah nyasar ke gua cerme. Start dari rumah kurang tau jam berapa terus mampir dulu ke prambanan, kurang lebih jam 11 an cabut dari prambanan go to depok beach yang akhirnya nyasar ke cerme cave. Bermotor ria bersama ovee untuk ke TKP, nyasar ke gua cerme dikarenakan ovee penasaran sama tu gua yaudah alih jalur ke gua cerme (ya kalo saya bukan kali pertama ke gua ini coz kalo ada kegiatan caving pasti di ini gua). Jalannya track2an yang menegangkan otot2 persendian. Sampai disana setelah parkiran naek ke tempat retribusi membayar tiket masuk per @ Rp 1000 (murah ya) terus masuk menyusuri gua dan berbasah-basah ria dan diceritakan sejarahnya sama si guide. Sedikit sejarah tentang gua cerme.

air zam-zam gua cerme
Goa Cerme, sebuah goa yang terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri, Bantul memiliki pemandangan dalam goa yang unik dan menarik dengan Stalaktit dan Stalakmit serta aliran air jernih yang di beberapa tempat mencapai kedalaman 1 meter merupakan obyek wisata alam yang cukup menarik untuk dikunjungi. Letaknya tidak begitu jauh dari kota Yogyakarta ± 22 Km dan mudah dicapai oleh segala macam kendaraan. Menurut ceritera , goa ini dahulu merupakan tempat pertemuan yang dipergunakan oleh Walisongo pada awal penyebaran agama Islam di pulau Jawa’. “Cerme” berasal dari kata “Ceramah”, yaitu ceramah yang dilakukan oleh Walisongo dan para pengikutnya pada waktu merencanakan pendirian Masjid Agung di Demak. Dengan Stalaktit dan Stalakmit yang indah dan unik dengan aliran air yang jernih dan sejuk, pengunjung akan merasa senang dan santai menyusuri lorong – lorong goa, dengan begitu segala kepenatan akibat kesibukan dan rutinitas kehidupan dapat sirna begitu saja. Para pengunjung yang bermaksud memasuki goa, sebaiknya menghubungi juru kunci agar memperoleh keterangan dan panduan yang benar. Di samping goa Cerme sebagai goa utama di sekitarnya masih ada beberapa goa lebih kecil yang biasa digunakan sebagai tempat bersemedi antara lain goa Dalang, goa Ledek, goa Badut dan goa Kaum. Sepanjang perjalanan menyusuri lorong goa, mulai dari pintu masuk di dusun Srunggo, Imogiri, Bantul para pengunjung akan menjumpai bekas panggung pertemuan, air Zam – zam, mustoko, air suci, watu kaji, pelungguhan / paseban, kahyangan, grojogan sewu, air penguripan, gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar di desa Ploso, Giritirto, Panggang, Gunungkidul.
Nah gambar diatas adalah aliaran air zam-zam pada gua cerme, air tersebut menurut sumber bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, banyak pengunjung yang mengambil air tersebut (aku ndak ambil ntar suruh ritual macem2 lagi hehehhe) dan perjalanan menyusuri gua pun tidak sampai di pintu kluar karena sudah ke klelep air dan basah semua sampai ke pinggang mana gak bawa baju ganti lagi coz ya biasa BONEK (BONDO NEKAT/MODAL NEKAT)
. Puas sudah perjalanan hari ini dengan BONEK hingga tertangkap pak polisi karena melanggar lampu merah fffuuuhhh, ya cukup menantanglah
sampai jumpa di jelajah saya yang berikutnya ya







