Dewasa vs Childish
Sedikit berpaling dari kerjaan yang lumayan menumpuk di kepala yang menekan sewaktu-waktu dan mulai menutup laman-laman kerjaan dari layar monitor satu persatu-satu beralih ke mozila firefox ketik laman wordpress login akun dan akhirnya mulai bercelotelah disini.
Pembicaraa dengan banyak orang yang mempunyai karakter yang berbeda-beda masih terekam jelas di memory kepala ini dan lebih baik saya tumpahkan disini daripada mubazir ga ditulis. Obrolan yang menarik dan bisa timbul perdebatan akan hal ini, obrolannya seperti judul diatas DEWASA vs CHILDISH yang disini lebih mengarah pada pribadi. Ya dari obrolan yang panjang lebar hingga perdebatan, disini saya berbagi secara ringkas saja.
Jadi begini ada orang dewasa (dalam artian umur) tapi masih mempunyai pribadi kanak-kanak ato childish, padahal orang-orang disekitarnya berharap (tuntutan) dewasa dewasa dan dewasa, mandiri mandiri dan mandiri (dalam artian pribadi). It’s OK itu sebuah harapan ato lebih tepatnya permintaan (yang bisa diliat dari faktor umur). Kalo saya kurang begitu setuju ya, karena walopun dewasa (dalam artian umur) pasti memiliki pribadi like childish ya ada kekanak-kanakan terus manja walopun hanya berapa persen dari pribadi dewasanya pasti ada. Begitu pula dengan anak-anak (dalam artian umur), yang memiliki pribadi childish tapi jangan salah seorang childish juga punya pribadi dewasa walopun hanya berapa persen saja. Seolah-olah banyak orang memandang sebelah mata hal itu, tolonglah buka mata lihat sisi positifnya jangan asal memandang sebelah mata saja.
Ya menurut saya kedewasaan itu tidak ditentukan oleh umur. Tidak selamanya dewasa itu dewasa, tidak selamanya kekanak-kanakan itu anak-anak. Orang dewasa memiliki pribadi childish walopun hanya berapa persen dari pribadi dewasanya itu hal yang wajar karena merasa ingin diperhatikan, dimanja, membutuhkan…kalo dewasa dituntut mandiri bisa saja merasa ga butuh bantuan sama sekali, pertolongan ya pokoknya merasa tidak membutuhkan siapa-siapa karena sudah mandiri semua bisa sendiri, padahal kita tetep membutuhkan orang disekitar kita. Kekanak-kanakan tidak selamanya anak-anak, karena anak-anak sekalipun pasti punya pribadi dewasa ya walopun berapa persen dari pribadinya yang childish. Pribadi dewasa itu akan datang sendirinya pada setiap pribadi seiring waktu berjalan dan semua itu butuh proses karena tidak bisa instant seperti masak mie instant.Tidak perlu dipaksa untuk dewasa karena bisa berpikir sendiri kapan harus bersikap dewasa. Tidak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik NYA. Tetap bersyukur atas apa sudah diberikan olehNYA.
About this entry
You’re currently reading “Dewasa vs Childish,” an entry on Suara Hati
- Telah Diterbitkan:
- Maret 9, 2010 / 00:00
- Kategori:
- sekedar berbagi
- Kaitkata:
- sekedar berbagi
No comments yet
Langsung ke formulir komentar | comment rss [?] | trackback uri [?]